NORMALISASI SAINS KEALAMAN

Normalitas (al hiyad) adalah sebuah arah pemikiran (al ittijihaat al fikriyah) dari seseorang atau sekelompok orang yang tidak melibatkan diri kepada salah satu pihak pun, seperti melepaskan diri dari seseorang dari keterlibatan kepada partai politik tertentu(Badawi, 1982:284).

Netralitas pada akhir-akhir ini sering pula dikaitkan dengan sains dalam suatu kontroversi apakah sains itu bebas nilai (netral) atau memuat kecenderungan pada nilai-nilai tertentu. Kontroversi ini terpicu terutama setelah munculnnya gerakan Islamisasi Sains pada awal tahun 80-an. Namun tampaknya pemikiran yang kedualah yang pada akhir-akhir ini banyak dianut pemikir muslim. Banyak buku terbit terkait dengan ini baik yang bersifat teori maupun eksperimen.

Teori-teori tentang islamisasi sains berkaitan erat dengan pembahasan hakikat ilmu, sedangkan beberapa penulis memberanikan diri bereksperimen dalam bidang ilmu tertentu sehingga muncullah buku-buku, sebagai contoh, yang berjudul Ekonomi Islam.

Makalah ini hanya akan membahas hujah-hujah yang diajukan kelompok kedua, yakni mereka yang berpendapat bahwa sains itu tidak bebas nilai atau tidak netral.

Perlunya Islamisasi Sains

Sejak beberapa dekade yang lalu hingga kini muncul berbagai kritik terhadap Sains Modern (baca: Barat). Bukan saja ilmuwan Muslim, tapi banyak ilmuwan Barat sendiri mulai kritis dan mengevaluasi sains yang ada. Mereka umumnya mempertanyakan keabsahan paradigma Sains Modern bahkan cenderung skeptis tentang masa depan Sains Modern. Mereka coba menganalisa dan mencari paradigma sains alternatif. Bagi ilmuwan Muslim, tentu paradigma yang didasarkan pada nilai-nilai Islamlah yang menjadi tumpuan alternatif. Upaya-upaya inilah yang sering disebut Islamisasi sains. Selain percaya pada kesempurnaan nilai-nilai normatif Islam, para ilmuwan Muslim juga percaya pada kesanggupan Islam terjun di wilayah praxis sains, seperti dibuktikan pada masa keemasan Islam.

Penulis -yang dibesarkan dalam tradisi ilmu-ilmu alam dan matematika- sempat kebingungan ketika mendengar adanya proyek Islamisasi ini. Terlintas pertanyaan,”Apakah ada bedanya bila hukum gravitasi, misalnya, ditemukan bukan oleh Newton, tapi oleh seorang Muslim? Atau bagaimanakah formulasi hukum gravitasi bila telah di-Islamisasi?” Pertanyaan-pertanyaan ini sungguh membingungkan, apalagi bila dikonfrontir dengan keyakinan,”Sains itu berasal dari Allah dan tunduk pada hukum-hukum Allah, jadi mustahil tidak Islam”. Kalau begitu apa perlunya Islamisasi dan apa yang harus di-Islamisai?

Netralitas Ilmu dalam Sorotan

Gejala penipisan dan pelubangan lapisan ozon seta krisis lingkungan akibat limbah industri adalah jelas sebagai karya langsung sains dan teknologi masa kini. Sains dan teknologi telah mampu menciptakan tatanan, yang secara sekilas dan sementara, sangat menakjubkan. Baru setelah beberapa lamanya kita merasakan akibatnya yang mengkhawatirkan sekali.

Sebagaimana diketahui, teknologi industri (suatu tatanan sebagai produk dari sains dan teknologi) telah menghasilkan berbagai limbah yang mengancam. Dua diantaranya adalah zat kimia yang dikenal sebagai Carbon dioksida(CO2) dan Chloroflourocarbons(CFCs): dua zat yang sulit bereaksi dengan molekul lain, tetapi mampu bertahan lama di angkasa dan mudah bereaksi dengan ozon. Akibatnya lapisan ozon semakin menipis dan bolong serta terjadinya efek rumah kaca. Kedua fenomena ini menjadikan bumi semakin panas.

Paradigma Epistemologi Islam Ilmu-ilmu Sosial

Model universitas Islam pertama di daratan Eropa (Andalusia) dahulu, adalah contoh yang cukup cemerlang, pada waktu itu banyak mahasiswa dari berbagai penjuru Eropa terutama dari daratan Pyrenia di kawasan Franca, datang menimba ilmu pengetahuan dan teknologi. Para ilmuwan dari dunia timur juga berdatangan ke pusat studi Andalusia Spanyol untuk saling tukar informasi. Sementara itu, di belahan timur muncul juga universitas Al Hikamh di Baghdad dan kampus Bani Fatimiyyah di Kairo yang kemudian menjadi universitas Al Azhar sampai saat ini.

Mencari Jalan Menuju Islamisasi Iptek

Akibat kemajuan yang spektakuler, Sains Modern (baca: Sains Barat) telah menjadi satu dimensi peradaban yang paling dominan. Sains Modern yang saat kelahirannya sangat ditopang filsafat, kini justru mampu memperbudak filsafat itu sendiri. Sains telah menjadi tujuan tertinggi, sestem nilai tersendiri, bahkan agama baru, yaitu agama perkembangan dan kemajuan. Terobsesi oleh kemajuan yang diraihnya, Barat meyakini bahwa Sains Modern merupakan satu-satunya jalan yang mungkin bagi kemajuan (progress) dan perkembangan(growth). Seorang ilmuwan Barat, Lynn White Jr, seperti dikutip Sardar berpendapat semua bangsa di seluruh dunia penting menggunakan gaya dan metoda Barat ini untukkemajuannya.

Akibat dominasi ini, tidak heran bila saat muncul krisis global orang dengan serta-merta menuduh Sains Modern sebagai penyebabnya. Krisis global, baik krisis lingkungan maupun krisis kemanusiaan sudah menghantui sebagian besar manusia. Ini memunculkan sikap kritis: adakah yang salah dalam sains modern?

Proses Islamisasi Ilmu Pengetahuan

Kajian tentang Islamisasi ilmu pengetahuan difahami bergulir dari suatu keyakinan dasar, bahwa ilmu pengetahuan sarat nilai, ilmu pengetahuan tidak bebas nilai, tetapi terbuka terhadap konteks dimana ilmu terwujud. Contoh cukup jelas yang menggambarkan bagaimana interaksi antara ilmu pengetahuan dengan konteks budaya dimana ilmu berkembang, yang kemudian menghasilkan “warna” tersendiri pada kreativitas ilmiah dapat dilihat pada kasus Teori Evolusi Biologi, Teori Evolusi Kosmis, dan Teori Evolusi Agama, bahkan ilmu ekonomi dan sejarah.

Dari contoh kasus ini akan terlihat betapa materialisme menjadi nilai yang dominan dalam struktur terdalam ilmu pengetahuan dan menihilkan setiap peluang bagi keyakinan akan eksistensi Khalik. Karenanya proses Islamisasi ilmu pengetahuan ini menjadi penting, sebab ia bukan sekedar persoalan dalam wilayah intelektual, tanggung jawab moral, dan kepemimpinan umat atas ilmu pengetahuan, tetapi juga persoalan yang menyangkut aqidah. Umat berkepentingan untuk mengembalikan arah perkembangan ilmu pengetahuan kepada fitrahnya yang suci, yang mendekatkan manusia kepada Khaliknya dan bukan malah menjauhkannya.

Islamisasi Kurikulum Pendidikan

Pendidikan merupakan aktivitas mendasar dalam kaitannya dengan pembangunan peradaban manusia. Allah SWT sendiri telah menjadikan kegiatan pendidikan dan pengajaran ini sebagai aktivitas yang mula pertama kali diperintahkan kepada Adam as sebagai manusia pertama.

“Dan Allah mengajarkan kepada Adam akan nama-nama semua benda” (QS. 2:31)

Perintah ini turun ketika tidak ada peradaban manusia pada waktu itu, yang ada adalah peradaban hewan dan tetumbuhan.

Demikian pula bila kita perhatikan wahyu pertama yang turun kepada Rasulullah Muhammad saw, sangat sarat dengan aktivitas pendidikan dan pengajaran. Dan perintah ini turun saat peradaban manusia dalam kondisi memburuk, dimana dunia didominasi oleh berbagai pemikiran dan perilaku yang jauh dari nilai-nilai luhur.

“Bacalah dengan menyebut nama Robb-Mu yang telah menciptakan …” (QS. 96:1)

Allah sendiri kemudian menegaskan bahwa derajat (peradaban) manusia itu meningkat oleh iman dan ilmu. Dan kita sangat mafhum bahwa keduanya tidak akan muncul kecuali melalui proses pendidikan.

“Allah mengangkat orang-orang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat…”

(QS. 58:11)

Pedoman Qur’ani Untuk Pengembangan Bioteknologi

Fenomena hayati selama ini hanya dapat diamati dan dimanfaatkan secara terbatas, misalnya dalam usaha pemuliaan tanaman atau ternak dengan pengawinan antara bibit yang unggul, penggunaan mikroorganisma untuk pembuatan keju, roti sampai minuman keras, dan sebagainya. Tetapi saat ini dengan kemajuan bioteknologi, manusia telah dapat merekayasa langsung gen pengkode aspek hayati itu dan protein hasil produksinya. Kemajuan yang diperoleh tak pelak telah banyak mensejahterakan kehidupan manusia. Dengan teknik rekombinan DNA, protein-protein yang diinginkan dapat diproduksi secara masal pada mikroorganisma, mulai dari insulin, erythropoietin dan hormaon pertumbuhan manusia di bidang medis sampai sellulase, lipase dan amylase untuk industri sabun cuci.

Wawasan Islam Terhadap Iptek

Di dalam perkembangan, maka peranan ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) semakin lama menjadi semakin penting artinya, baik untuk kepentingan sipil maupun militer, kepentingan damai maupun perang. Kecenderungan pengembangan dan eksploitasi iptek akhirnya menjadi tak terbatas dan cenderung menjadi sulit untuk diketahui secara rinci. Karenanya kemudian muncul pertanyaan bagaimanakah seharusnya iptek dikembangkan dan dimanfaatkan secara Islami sehingga benar-benar dapat dimanfaatkan untuk kemaslahatan hidup manusia. Pertanyaan demikian akhirnya dapat dijadikan sebagai landasan dalam membentuk dan mendidik generasi penerus.

Sifat Allah yang Ar-Rahman kepada seluruh alam pada umumnya dan manusia pada khususnya menjadikan perkembangan iptek menjadi tak terbatas. Siapa yang berusaha maka dialah yang akan mendapatkan. Hanya saja untuk para ilmuwan muslim, dimana sinyal-sinyal iptek tertuang di dalam Al Qur’an, maka apabila disadari, gerak dalam iptek dapat dimanfaatkan untuk mendapatkan dua tujuan sekaligus, yakni duniawi dan ukhrowi.